Home Seputar Penanaman Modal INVESTASI PMA DI KOTA SUKABUMI MASIH MINIM DIBANDINGKAN DENGAN PMDN

INVESTASI PMA DI KOTA SUKABUMI MASIH MINIM DIBANDINGKAN DENGAN PMDN

Sumber Artikel: http://jabar.pojoksatu.id/sukabumi
Kamis, 01 Oktober 2015 08:08 WIB

Selama 2015, Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi ‘krisis’ atau tak ada aktivitas dari sektor Penanaman Modal Asing (PMA). Keadaan itu jelas menjadi kemorosotan pemkot dalam mendatangkan investor ke kota yang terkenal dengan mochinya ini.

“Meskipun di tahun ini tidak ada investasi asing, peluang menanamkan modal di Kota Sukabumi masih terbuka lebar,” klaim Kasubid Promosi dan Kerja Sama BPMPT Kota Sukabumi, Emi Supartini.

Meski begitu, berdasarkan data dari 2011 sampai 2014, PMA terus mengalami peningkatan mencapai Rp. 202,836 miliar dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 13.291 orang. Sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tahun 2011 sampai 2015 semester I (pertama) mencapai Rp1.762,593 triliun lebih dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 13.794 orang. “Khusus investasi dalam negeri selalu mengalami peningkatan, bahkan melebihi dari target yang sudah ditentukan,” katanya.

Investasi di Kota Sukabumi didominasi oleh perdagangan dan jasa, di antaranya jasa perhotelan dan toko. Bila dibandingkan dengan kabupaten dan kota lain yang ada di wilayah Provinsi Jawa Barat (Jabar), dengan luas wilayah kurang lebih sekitar 4800,231 hektare, menjadikan Kota Sukabumi hanya bisa ditempati oleh industri non-polutan dan sektor industri pengolahan berskala kecil dan menengah. “Industri kecil dan menengah (IKM) di Kota Sukabumi didominasi oleh industri yang bergerak di sektor pengolahan makanan dan minuman, kayu olahan serta kerajinan tangan,” ujarnya.

Peluang investasi di Kota Sukabumi masih memungkinkan khususnya industri non-polutan serta industri berskala kecil dan menengah. Namun di sisi lain masih perlu ada dukungan untuk menjadi perhatian para investor, yaitu lahan dan sarana infrastruktur yang saat ini masih dijadikan alasan para investor.

“Khususnya lahan untuk industri garmen. Lantaran para investor rata-rata membutuhkan tanah kurang lebih 10 hektare,” terangnya. Bahkan lanjut Emi mengungkapkan, investasi tidak lepas dari pembangunan, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Artinya, mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing daerah, sektor tersebut dititikberatkan ke wilayah Kecamatan Baros, Cibeureum dan Lembursitu (Bacile). “Makanya, baik investasi dalam negeri ataupun luar negeri akan digiring ke Bacile. Dan diyakini juga akan meningkatkan roda perekonomian dan pendapatan berkapita yang secara otomatis akan ikut naik,” pungkasnya. (bal/d)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here